Rabu, 13 April 2011

BHINEKA TUNGGAL IKA

BHINEKA TUNGGAL IKA



     BHINEKA  adalah aneka, keanekaragaman, berbeda-beda,bermacam-macam.
      TUNGGAL berarti satu.
       IKA berarti itu,menjadi itu.
                          Berbeda-beda, bermacam - macam, beraneka  ragam, semuanya menjadi yang satu itu,semua berada dalam yang satu itu dan semua
menjadi yang satu itu, jadilah SATU.
                            Berbeda-beda negara, bangsa,  suku, etnis, kebudayaan, adat, bahasa ,agama, kepercayaan,  berbeda-beda wujud,ada wujud halus ada wujud kasar/fisik, ada wujud manusia, wujud
 jin, setan, malaikat, dewa, binatang, bakteri, virus,
tumbuhan. Semua adalah satu, satu langit, satu bumi, satu alam semesta, satu jagad raya, satu Sang Pencipta .              

                             KRISNA mengatakan kepada arjuna bahwa seluruh yang ada di alam semesta ini sedang menuju kepada NYA.
Bagaimana pun manusia melakukan persembahan
  (sembah-YANG "Yang Maha....,maksudnya Tuhan"),
   bagaimana pun manusia melakukan ibadah atau ritual,
    dengan cara agama manapun dan kepercayaan apapun,
    asal niatnya ditujukan kepada DIA yang telah mencipta-
     kan seluruh alam semesta ini, apapun sebutannya, Yang Maha ini....,Yang Maha itu....,Sang Yang ini....,Sang Yang
  itu....,Krisna menjelaskan semua cara persembahan itu
  akan sampai kepada NYA.(bhagavad gita).
   
              


HARMONIS DENGAN ALAM

        Pada suatu hari pandawa pernah ditugaskan gurunya untuk menjaga ritual pemujaan kepada Tuhan yang di lakukan gurunya di tengah hutan belantara,sebab di hutan
itu banyak mahluk halus yang sering mengganggu. Krisna pun ikut bergabung dengan anggota pandawa,untuk menjaga
ritual itu dengan cara bergiliran setiap malamnya. Ketika giliran anggota pandawa yang menjaga, banyak sekali
gangguan dan serangan dari para mahluk halus yang sakti-
sakti, sehingga para anggota pandawa sangat kualahan
 dalam menghadapi mereka, meskipun berbagai senjata
ampuh dan kesaktian digunakan,begitu juga dengan para
anggota pandawa yang lain.
        Kini giliran krisna yang menjaga. Krisna menjaga dengan santai dan tanpa membawa senjata apapun, padahal
semua anggota pandawa selalu membawa senjata dan persiapan yang lengkap pada penjagaan sebelumnya.
         Namun aneh, ketika saat krisna bertugas jaga tidak ada
satupun gangguan yang datang, seluruh hutan tampak sangat
damai dan tentram. Gangguan dari para mahluk halus pun
tidak ada sama sekali. Hutan tiba-tiba menjadi sangat damai,
tenang dan sangat bersahabat.
        Seluruh anggota pandawa sangat heran dengan kejadian tersebut. Keesokan harinya mereka bertanya pada
krisna. Arjuna langsung bertanya "Saudaraku, kenapa tadi
malam semua damai bahkan tidak ada para raksasa dan mahluk halus lainnya, padahal enkau tidak membawa senjata apa pun juga tidak melakukan cara apa pun".
        Krisna menjawab, "Selama ini kalian membenci
mereka dan kebencian kalian pada mahluk lainnya juga
banyak. Rasa benci yang kalian miliki mudah di rasakan
oleh para mahluk halus, kalau kalian mengarahkan rasa
benci itu kepada mereka, tentu mereka akan mengganggu
dan menyerang kalian. Rasa benci kepada mahluk lain pun
menyebabkan pola energi yang kalian miliki akan menjadi seperti tajam dan kotor Energi yang seperti itu mudah  di
rasakan mahluk halus dan sangat mengganggu mereka.
Sehingga jika kalian memasuki tempat mereka berada,
kalian akan di ganggunya".
        Krisna menambahkan,"Aku tidak pernah membenci mereka. Aku mengasihi dan mencintai semua mahluk,
tanpa pernah berniat buruk sedikitpun kepada mereka."
         "Wajarlah jika para raksasa danmahluk halus
lainnya tidak mengganggu". Demikianlah krisna
menjelaskan kepada para pandawa.


       


KASIH

        Kasih dan mengasihani alias kasihan adalah hal yang
sangat berbeda.Kasih timbul dari kesadaran murni dan
juga dari pencerahan, sementara kasihan timbul dari ego.
        Seseorang yang merasa kasihan terhadap suatu obyek,
pada waktu tertentu dapat membenci obyek itu,karena
kasihan dan benci berasal dari ego yang sama.Suka-duka,
baik-buruk,benci-kasihan, pemarah-sabar,dan sifat lainnya yang memiliki pasangan bertentangan bersumber dari ego.
        Kasih adalah tunggal,tidak memiliki pasangan lainnya.
Kasihan memiliki syarat-syarat tertentu. Sebaliknya kasih
tidak pernah bersyarat dan juga tidak pernah terbatas.
        Kasih itu universal, tidak membedakan suku,etnis,
agama, kepercayaan,latar belakang,baik atau jahat,
atau pun persyaratan lainnya.
        Krisna mengatakan bahwa kasih adalah sumber penciptaan, sumber seluruh kehidupan, dan juga energi
vital bagi seluruh penciptaan serta kehidupan itu sendiri.
Seluruh kekuatan alam tunduk kepada energi kasih.
Seluruh kekuatan dan kesaktian yang di miliki oleh semua
mahluk termasuk dewa, serta senjata sakti apapun, sangat
mudah di taklukan oleh energi kasih.
        Itulah sebabnya Shidarta  Gautama dan juga orang yang memikiki sifat kasih lainnya dengan mudah menaklukan raja siluman yang sangat sakti dan juga
senjata pusaka yang menyerang mereka.
        Kalau ada seorang pemuka agama sering berkotbah
tentang "kasih", namun ia sering menyiksa mahluk lain,
seperti memukuli anjing sampai mati sebelum disembelih,
atau memasukannya ke dalam karung dan membanting-
bantingnya atau pun mencekiknya, sehingga anjing itu
sangat tersiksa sebelum akhirnya anjing itu mati untuk
di sembelih. Pemuka agama itu belum memiliki "kasih".
        Seorang yang memiliki sifat "kasih" hati nurani nya
akan berkembang tanpa batas, ia tidak akan tega membuat
mahluk apa pun menderita, kalau pun ia terpaksa menyembelih binatang untuk di makan ia akan menggunakan cara-cara atau teknik penyembelihan
tertentu, supaya binatang itu tidak terlalu menderita.
          Seseorang yang mempunyai sifat "kasih" terbebas
dari rasa benci terhadap siapapun dan apapun juga.Ia mudah
memaklumi kejahatan yang di tujukan kepadanya. Seseorang
yang dengan mudah membenci, apalagi karena dengki, iri,
atau karena dihasut menunjukan bahwa orang itu masih
berjiwa rendah. Kalau ada orang lain berbuat jahat kepadamu, cukup rasa kesal atau marah saja, tapi jangan
membenci. Kesal dan marah akan memudar dengan sendirinya, sedangkan rasa benci akan terus berkepanjangan.
        Rasa benci yang di ajarkan kepada kita ketika masih
anak-anak, terutama oleh beberapa pemuka agama seperti untuk membenci setan, membuat sifat "kasih" di diri kita
hilang dan sjfat benci menjadi semakin berkembang.
        Sekarang kita hanya membenci sosok setan, besok-
besok lebih banyak lagi yang akan kita benci. Hanya karena
berdeda agama, suku, etnis dan lainnya kita mudah membenci seseorang, padahal secara kenyataan dan
fakta mereka yang selama ini kita benci tidak pernah
berbuat kesalahan apalagi kejahatan terhadap kita.
        Dalam ajaran agama kita hanya di perintahkan
untuk tidak mengikuti ajaran setan tapi bukan untuk
membebencinya, sebab ketika kita sudah mempunyai rasa
benci, saat itulah kita juga menjadi sama seperti setan.
        Masih ingat cerita adam dan iblis...? Dulu iblis adalah
malaikat. Setelah adam di ciptakan, malaikat ini langsung
membenci adam di karenakan rasa iri dan denki. Saat
di diri malaikat itu timbul rasa benci, pada saat itu pula
malaikat langsung berubah menjadi iblis.
        Bukan hanya malaikat yang tiba-tiba bisa berubah
menjadi sosok setan apabila benci telah merasuk kedalam
diri. Semua mahluk pun termasuk manusia akan berubah
menjadi sosok setan apabila jiwa sudah di penuhi dengan
sifat kebencian.
        Untuk memiliki sifat "kasih" kita harus bisa membuang
semua rasa benci yang ada pada diri kita, rasa benci itu jangan di pendam dalam hati, tapi di buang seluruhnya
dari hati dan jiwa kita. Kasihilah setiap mahluk tanpa
persyaratan apa pun dan tanpa batas apa pun.
        Dalam cerita yesus dan iblis, yesus pernah di cobai
iblis agar berpaling dari ajaran Tuhan,namun yesus sama
sekali tidak marah atau membenci iblis itu, sebaliknya
yesus malah mengasihi dan menasehati iblis itu, agar
si iblis bertobat dan kembali ke jalan Tuhan.Yesus sangat
mengasihi semua mahluk, termasuk iblis dan setan, bahkan
yesus juga mendoakan iblis agar suatu saat ia kembali
ke jalan Tuhan.
        Dalam agama Islam juga di ajarkan agar umatnya selalu
mengucapkan bismillah.... ketika ingin melakukan sesuatu,
yang berarti  -Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi
maha penyayang-.  Dari kalimat itu jelaslah bahwa sifat
"kasih" di ajarkan oleh semua agama, karena "kasih"
adalah energi vital yang meliputi seluruh alam semesta ini.
        Kalau ada seseorang yaang sering berkotbah tentang
kasih, tapi jika ia dalam melakukan kebaikan masih memilih-
milih apakah obyeknya se-agama dengan dia atau tidak,
masih satu aliran/sekte atau tidak, masih satu suku/etnis
atau bukan, serta mencari-cari perbedaan lainnya. Semua
itu menunjukan bahwa orang itu belum memiliki sifat
"kasih". Kasih itu tidak pernah memperhatikan latar belakang. Kasih itu ikhlas dan universal.
          Kasih itu tidak mengharapkan balasan atau pujian
dalam bentuk apa pun, baik tidak mengharapkan balasan
di dunia dan juga di akhirat, baik secara lahiriah maupun
secara bathiniah. Kasih itu sangat ikhlas dan tulus.
        Seseorang yang memiliki "kasih" bisa melakukan kebaikan tanpa harus di iming-imingi surga dan pahala,
bisa tidak melakukan kejahatan tanpa harus di takut-
takuti dengan dosa, siksa neraka, dan karma.
        Mereka yang mempunyai sifat "kasih" hati nurani nya
hidup dan ber-jiwa ikhlas, sehingga iming-iming istana megah di surga, bidadari cantik bertelanjang dada sudah
tidak dapat mempengaruhi mereka lagi, termasuk janji akan
di bankitkan dalam keadaan suka cita pada hari kebangkitan.
        Mereka tidak peduli dengan janji-janji itu, karena semua yang mereka lakukan  ikhlas dan tulus. Mereka bukanlah anak kecil yang harus di iming-imingi dengan hadiah serta imbalan tertentu agar mau melakukan kebaikan
terhadap sesama, dan tidak perlu di takut-takuti dengan ancaman tertentu supaya tidak melakukan kejahatan terhadap sesama.
        Hubungan mereka dengaqn sang pencipta adalah antara Tuhan dan hamba nya yang saling mencintai, bukan hubungan dagang antara pedagang dan pembeli.
         Jika mereka melakukan amal serta kebaikan lainnya,
bukan karena mereka menginginkan Tuhan membeli kebaikan serta amal mereka dengan bayaran pahala atau surga, atau bayaran bidadari cantik dengan istana nya yang
megah, atau pun bukan agar di bayar supaya di bangkitkan
dengan suka cita pada hari kebangkitan nanti.
        Karena kasih itu bukanlah pengharapan, tapi ketulusan
dan ke-ikhlasan yang bersumber dari kesadaran murni juga
dari pencerahan.

EDISI YANG SUDAH  DI REVISI CLIIK PADA:
                                             
             http://vm2insert.wordpress.com                    













































             
                                                                            
       







 








































   


































































        



















 





















        
         






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar