Rabu, 13 April 2011

LINTAS BUDAYA & AGAMA



            LINTAS BUDAYA DAN AGAMA



        Seseorang memberi komentar kepada masternya yang masih se-agama, "bahwa menurut kitab suci kita mengatakan
agama itu dan ini tidaklah rela sebelum orang - orang dari agama kita berpindah ke agama mereka".
        Sang master dengan tenang menjawab. "Apakah kamu tidak memperhatikan, orang - orang dari agama kita pun sama agar semua manusia harus se-agama dengan kita. Kita pun tidak ikhlas sebelum orang yang beragama lain pindah
ke agama kita."
        Muridnya terdiam sebentar, lalu egonya muncul kembali. "Tapi menurut kitab suci memang seharusnya agama kita kaffah/menyeluruh."
        "Yang kaffah/menyeluruh adalah lahir dan batin kita, seluruh jasmani dan rohani kita dalam menjalankan agama kita itu.  Selama ini kita belum kaffah, yang beragama baru fisik kita saja, hanya status saja, tapi jiwa kita belum beragama. Kita cuma mengaku beragama, tapi ajaranya tidak pernah kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Kaffah itu maksudnya seluruh jiwa dan raga, seluruh jasmani dan rohani, seluruh pikiran dan hati."Jawab sang master.
        Muridnya diam lagi, sesaat kemudian pikirannya membandingkan lagi. "Menurut agama tertentu seseorang bisa lahir kembali ke dunia ini, padahal di kitab suci agama kita menyebutkan bahwa orang yang sudah mati tidak akan dapat kembali ke dunia ini."
        Sang master menjelaskan. "Kamu lihat saja kenyataan, banyak kok orang yang sudah meninggal selama beberapa hari, seminggu, sebulan, bahkan setahun bisa hidup lagi alias mati suri, dan itu terjadi pada semua agama seta kepercayaan."
        "Jadi bagaimana dengan ayat yang ada di kitab suci kita itu?" sang murid bingung.
        "Yang salah bukan kitab sucinya, tapi yang menerjemahkannya. Jumlah kata dari setiap bahasa dalam suku/etnis dan negara, itu jumlah kata nya berbeda - beda.
Ada suku bangsa yang jimlah suku kata nya lebih banyak, ada suku bangsa yang jumlah suku kata nya lebih sedikit.
Itulah sebabnya untuk menerjemahkan sebuah kitab suci
ke dalam bahasa bangsa tertentu para penterjemah harus menggunakan kata lainnya yang di anggap menyerupai padahal artinya bisa sangat berbeda, apalagi zaman dahulu belum ada kata - kata serapan dari bahasa lain, setiap suku hanya menggunakan bahasa aslinya sendiri tanpa tercampur bahasa lain, apalagi zaman dahulu tidak ada ahli bahasa seperti zaman sekarang ini. Itulah sebabnya sering terjadi perbedaan tafsir dalam kitab suci." Jawab sang master menjelaskan.
        "Tapi kalau benar kita bisa lahir lagi, kenapa kita tidak bisa mengingat?" tegas sang murid.
        "Seminggu yang lalu kamu pakai baju apa, kamu sudah lupa, sebulan yang lalu kamu berbuat apa, juga lupa,' disuruh mengingat minggu kemarin kamu pakai baju apa, ya..kamu susah untuk mengingatnya, bahkan tidak bisa mengingat sama sekali, padahal baru kejadian seminggu yang lalu. Lihat orang yang mengalami Amnesia berat, seluruh memori ingatannya hilang semuanya, bahkan sampai ajal menjemput ia tidak mengenali jati dirinya sebelum mengalami Amnesia, padahal ia waras dan sama sekali tidak gila.  Kalau umur kamu sekarang sudah di atas 30 tahun dan pernah bersekolah, coba kamu ingat - ingat seluruh kejadian waktu bersekolah di sekolah dasar SD yang memakan waktu 6 tahun. Hitung jumlah waktu yang dapat kamu ingat dari kelas 1 sampai kelas 6. Kejadian - kejadian yang dapat kamu ingat semuanya dari kelas 1 sampai kelas 6 , kalau kamu hitung seluruh volume ingatanya dengan ukuran waktu, paling kamu mengingatnya hanya sekitar 15 menit sampai 1 jam. Padahal kamu sekolah SD sampai 6 tahun. Itupun mengingatnya sangat susah, harus konsentrasi segala, yang di ingatnya pun sangat sedikit, bahkan tidak ingat sama sekali." tutur sang master. "Ada seorang anak lahir di Indonesia dan berada di negrinya sampai usia 10 tahun, dan ia sudah lancar berbahasa Indonesia. Setelah itu ia pindah ke Inggris mengikuti orang tuanya yang bekerja di sana. Selama di inggris ia tidak pernah lagi menggunakan bahasa Indonesia, temanya orang inggris semua, keluarganya juga menggunakan bahasa inggris dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sudah berusia 70 tahun ia kembali ke Indonesia. Apa yang terjadi,....Ternyata ia sama sekali lupa bahasa indonesia, padahal sewaktu kecil ia sudah lancar berbahasa Indonesia".
        Sang murid berkomentar kembali, "Menurut kitab suci sesungguhnya seorang anak yang baru lahir dalam keadaan......, orang tua nya lah yang menyebabkan ia beragama ini dan itu."
        Sang master menjawab,: "Agama kita berarti berserah diri kepada Tuhan, ada juga yang mengartikan selamat. Selama ini kita belum berserah diri, berarti kita belum......,
orang yang beragama dan berkepercayaan apa pun, kalau ia sudah berserah diri kepada Tuhan yang telah menciptakan seluruh semesta ini, maka ia sudah........,(yang artinya berserah diri kepada Tuhan), Seperti doa yang pernah di ajarkan Yesus - 'Tuhan, jadilah hanya atas kehendakMu saja, bukan atas kehendakku dan juga bukan atas kehendak kami, karena Engkaulah yang mengetahui apa yang terbaik bagi seluruh mahlukmu'-, dan juga ayat al- fatihah yang berbunyi
-' Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.'-
        "Doa-doa seperti itu mencerminkan penyerahan diri secara total kepada Tuhan."
        Ketika bayi lahir, ia dalam keadaan  berserah diri, setelah tumbuh dewasa ia mulai berkehendak dan berkeinginan yang kadang - kadang keinginannya bertentangan dengan kehendak Tuhan, pada saat itulah ia sudah mulai tidak berserah diri lagi kepada kehendak Tuhan."




NIAT BAIK


        Sering beberapa orang menganggap semua garis besar pengetahuan Tuhan sudah ada semua dalam kitab suci mereka. Itu sama saja menganggap Tuhan mereka bodoh karena pengetahuannya hanya sebatas dan hanya setebal kitab suci mereka. Padahal ilmu dan pengetahuan Tuhan itu tidak ada batasnya dan tidak pernah terbatas. Mana mungkin ilmu Tuhan yang sangat banyak dan tidak ada batasnya itu cukup bila hanya di tulis dalam kitab suci mereka yang hanya setebal itu.  
        Al-Quran juga menyebutkan dalam salah satu ayatnya, -Bahwa jika seluruh daun di bumi ini di jadikan kertasnya, dan seluruh lautan di jadikan tinta nya, maka semua itu tidak akan pernah cukup untuk menulis ilmu Allah.-
        Pengetahuan yang di berikan dalam semua kitab suci selalu di sesuaikan dengan kondisi umat penerima, karena pada dasarnya kondisi serta keadaan setiap kaum dan setiap zaman selalu berbeda. Namun isi dari semua kitab suci selalu universal dan di peruntukan bagi siapa saja dan apa saja yan mau mempelajarinya. Jadi bukan hanya untuk agama dan umat tertentu saja, tapi untuk semua mahluk yang mau mempelajarinya dan juga yang mau mengamalkannya.
        Sayangnya beberapa orang mempelajari kitab suci dari agama lain niatnya sudah jelek duluan, antara lain untuk mencari kelemahan dari agama lain, agar suatu hari  mereka bisa menjelek-jelekan agama lain. Bahkan di sekolah - sekolah agama tertentu mereka di ajari mempelajari kitab suci dari agama lain, namun niatnya hanya untuk menjelekan agama lain.
        Seorang yang mempelajari kitab suci dari agama lain dengan niat jelek, tentu akan salah tafsir dan tidak akan mengerti.Yang lucu ada diantara mereka yang tidak pernah mempelajari kitab suci dari agama lain serta tidak pernah membacanya sama sekali, namun mereka bisa menjelekan dan menghina agama itu, ketika mereka membicarakannya pun hanya sok tahu belaka dan juga hanya menebak - nebak, padahal mereka tidak pernah mempelari kitab suci dari agama yang sedang mereka bicarakan itu.
        Mempelajari kitab suci dari agama apa pun haruslah dengan niat yang baik, seperti ingin mencari pengetahuan dalam kitab itu, ketika membukanya niatnya benar - benar ingin mengetahuinya bukan berniat jelek.
        Seseorang yang berniat jelek dan sudah berburuk sangka dahulu dalam mempelajari kitab suci apa pun tentu tidak akan memperoleh kesadaran murni serta pencerahan dari kitab yang di pelajari itu.




        ************************************




       



              


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar